Semarang, 4 Februari 2026
Jarum jam menunjuk pukul 18.02 ketika kakiku menapaki kedai kopi langganan. Seperti biasa, aku memesan kopi susu dan croissant—paket hemat, jadi tak perlu mikir panjang. Aku duduk, menyeruput pelan, sementara dari kejauhan terdengar lagu dengan lirik samar, “memang sebegitunya aku…” entah lagu siapa, tapi rasanya pas dengan suasana.
Malam ini aku menulis. Terinspirasi dari serial Wednesday di Netflix. Setelah hampir tiga tahun, otakku terasa sering kosong—blank. Maka aku memutuskan kembali menulis, berharap pikiran ini terasah lagi. Walau banyak yang bilang, belajar di usia dewasa itu seperti mengukir di atas air. Ya, mungkin benar. Aku pun bercanda pada diri sendiri: otw jompo, hehehe.
Tubuhku rebah di sofa sudut kedai. Sepi. Hanya aku dan seorang pelanggan lain—barangkali pelajar yang sedang bergelut dengan tugasnya. Semakin dewasa, semakin jarang teman untuk sekadar mengobrol. Aku ini introvert, lengkap sudah. Maka menulis menjadi pelampiasanku. Lewat tulisan, aku berbincang dengan otakku sendiri—bertanya dan menjawab, mencari makna. Benar kata banyak orang: tubuh bisa tenang, diam, anteng… tapi otak? Berisik tak karuan.
Doaku malam ini sederhana. Semoga Allah meridoi langkahku belajar investasi. Tiga bulan sudah aku menjalaninya, hasilnya belum memuaskan. Namun aku tak putus asa. Setidaknya, aku merasa telah menemukan passion-ku. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk terus melangkah.
Write with a cup of coffee and a piece of croissant.




